Laman

Sabtu, 13 Juli 2013

Soundrenaline 2013 (Late Post)

Holla, because it seems there will be no "little exhibition" from my community about this event, i'll post some Soundrenaline 2013 picts in my blog then :p 

Well, Ini pertama kalinya aku nonton konser musik lokal outdoor yang segede soundrenaline sebenarnya. Biasanya cuma pernah nonton konser-konser indoor atau konser Kpop aja. Kenapa? karena aku lumayan parno dengan konser yang diadain di lapangan terbuka, apalagi kalo pemusik tersebut punya banyak fans fanatik yang kadang suka rusuh. Di kampungku Cirebon dulu, setiap ada konser outdoor pasti lebih sering rusuhnya daripada senengnya. Entah itu penonton yang jogetnya terlalu bersemangat sampe orang-orang di sampingnya emosi, insiden senggol bacok, atau artis yang jadi korban pelemparan botol, dan masih banyak lagi. Dari situlah keparnoan tentang konser lokal outdoor berawal, jengg jenggg.

Tapi Soundrenaline 2013 dengan tema "A Journey to Rock Harmony" yang diadakan di Stadion Maguwoharjo, Sleman, DIY tanggal 29 Juni 2013 ini ternyata tidak seperti itu sodara sodara. Acaranya aman, damai, dan sejahtera. Mungkin karena diadakan di Jogja yang notabene terkenal kota pelajar berbudi pekerti dan jarang rusuh, maka dari awal sampai akhir acara semuanya berjalan lancar. Nggak ada dorong-dorongan, senggol bacok, apalagi aksi lempar-lempar barang ke artis yang lagi perform di stage.

Jujur aja, nonton ini malah terasa lebih nyaman dibanding nonton SMTOWN Concert di Gelora Bung Karno tahun 2012  atau nonton konsernya Super Junior, Super Show 5 di MEIS awal Juni kemarin. Soalnya, nonton Soundrenaline ini nggak perlu ngantri dari pagi buta buat dapet spot nonton paling oke, nggak perlu berdesak-desakan dengan ratusan fans fanatik seperti di konser Kpop, nggak perlu takut kelaparan atau dehidrasi karena di dalam venue banyak stand food and beverages daaannn yang pasti tiketnya juga murah meriah, bahkan gratis karena aku masuk lewat komunitas fotografi kampus, hahahaha.

Masuk lewat komunitas ini selain gratis karena dapet invitation khusus, juga punya keuntungan boleh bawa kamera SLR karena ada event photography contestnya. Awalnya, aku ikut cuma karena bosen di rumah dan kepengen juga sekali-kali liat band-band kayak gini. Kebetulan juga ada GIGI dan Dewa 19 yang aku favoritin, jadi makin semangat deh. Awalnya, sama sekali nggak ada niat buat motret dan bawa kamera cuma sekedar formalitas. Masa masuk pake tiket invitation photogrphy contest tapi nggak bawa kamera?. Tapi ternyata setelah masuk ke dalam venue sayang juga kalo udah berat-berat bawa kamera tapi nggak ada satu pun yang dijepret. Jadilah aku iseng-iseng motret buat dokumentasi dan kenang-kenangan pribadi

Here it is the late picts post about soundrenaline 2013 

Dead Squad

Ini Dead Squad yang tampil pertama di Community Stage. Ada tiga stage di Soundrenaline 2013 kemarin yaitu Community Stage, A Stage dan Go Ahead Stage. Yang perform di Community Stage ini rata-rata band beraliran keras kayak Dead Squad, KOIL, Netral, dan lain-lain. Jujur aja aku juga nggak "ngeh" sama band bernama Dead Squad ini, hahaha. Tapi saat mereka perform ya aku nikmatin aja sambil iseng-iseng motret.

Dan tiba-tiba di tengah keisengan itu muncullah om Tora Sudiro yang juga lagi asyik mendokumentasikan Dead Squad di depanku. Inilah penampaka om Tora yang ganteng itu 

Om Tora Sudiro, the real sexy dokumentasi

Ternyata, om Tora ini mendokumentasikan semua band yang perform di Community Stage dari awal sampe akhir acara. Om Tora sangat sadar kalo dirinya  lagi aku fotoin dan dia langsung berubah pasang pose ganteng dan kadang pasang pose senyum juga. Salah satu temanku yang bisa motret langsung di dalam pagar pembatas bahkan bisa foto bareng dia. He's so friendly, sexy, and handsome. Real sexy dokumentasi, hahaha.
Kebetulan foto ini juga aku upload di instagram dengan hastag #ToraSudiro dan beberapa hari yang lalu di like langsung sama om Tora lewat akun instagramnya. He search himself on instagram from those hastag... I got the fact, ternyata artis juga bisa kepo dan narsis :p


David Naif
epic pose

























Naif Jump!

Yeah, David Naif with his epic pose! Pose antara main gitar sambil ngeden kali yaahh.. Dan yang kedua itu pose semua personel Naif di akhir perform mereka. One of my friend got this moment too, and took a pict similar with mine and he won the sondrenaline photography contest, congrats bro! :)









Nugie
Iman J-Rocks :*





Nugie malam itu perform bareng J-Rocks... Dan, finally aku bisa liat Iman secara langsung di depan mata... I admire him, he's cute and talented in my opinion :* 

Yah, cuma segitu aja sih foto-foto yang bisa dipost, karena nggak mungkin kalo semuanya dimasukin.. Yaa, Daripada cuma jadi sampah digital di dalam hard disk masih mending dimasukin ke blog aja kan? hahaha

Well, setelah J-Rocks selesai, aku udah nggak motret lagi dan hanya konsen ke perform mereka. Terutama waktu GIGI dan Dewa 19 feat Ari Lasso. I'm not photographer so i just enjoy the music.









Selasa, 09 April 2013

Holiday With Old Friends Part II

Minggu, 7 April 2013, aku dan cewek-cewek dibangunkan oleh Isal sekitar jam setengah lima pagi. Yeah, lagi-lagi molor dari waktu bangun yang sudah disepakati. Dengan malas-malasan akhirnya kami semua bergantian mandi. Bagiku yang terbiasa tinggal di Cirebon dan Jogja yang udaranya selalu panas, udara Bandung pagi itu benar-benar dingin. Isal yang mandi lebih dulu bahkan sempat berteriak "Allahuakbar"  berkali-kali dengan kerasnya saat ia mengguyurkan air ke tubuhnya. Mendengar teriakan lebay Isal dari kamar mandi membuatku semakin malas mandi. Terbayang air yang dingin menusuk kulit dan tulang belulangku yang tipis ini (halah). Pada dasarnya aku memang tidak suka udara dingin. Tapi mau tidak mau aku harus mandi agar tidak merusak paru-paru teman-temanku akibat bau badan di perjalanan nanti. Akhirnya aku berhasil  melewati bagian mandi lengkap (mandi, keramas dan sikat gigi) dengan perjuangan mati-matian, menahan nafas, derita, dan air mata (lebay).

Jam 7 pagi, kami semua siap untuk berangkat ke lokasi pertama, yaitu kawah putih di Ciwidey. Menurut Kelly, perjalanan ini akan memakan waktu sekitar dua jam apabila lalu lintas normal. Sebelum berangkat, kami menyempatkan foto-foto di depan kosan Kelly. Taraaaa....


Foto dulu lah yaaa


Selesai berfoto, kami juga harus sarapan untuk mengisi tenaga. Kami memutuskan sarapan bubur ayam dan lontong sayur di pinggir jalanan Bandung sebelum menempuh perjalanan ke Ciwidey. Pepatah habis makan terbitlah ngantuk kembali terjadi. Kali ini bukan hanya aku  yang mengantuk, tetapi juga seluruh umat manusia yang ada di dalam mobil bersamaku juga sedang berjuang mengontrol mata mereka. Selidik punya selidik, ternyata cowok-cowok itu semalam tidak tidur dan malah mengobrol ngalor ngidul sampai pagi. Reza yang kembali bertugas menyetir juga tidak terhindarkan dari serangan ngantuk dan pada akhirnya harus berhenti di minimarket untuk membeli kopi (tadinya sih mau beli M150, tapi ternyata nggak ada). 


Sebelum sarapan juga harus sempet foto

Untuk menghindari rasa kantuk, kami mencoba melakukan aktivitas seperti foto-foto nggak penting, menceritakan kisah-kisah konyol, atau membully satu sama lain.

Tidak terasa dua jam berlalu dan kami pun sampai di obyek wisata kawah putih. Kami memarkirkan mobil di tempat parkir bawah objek wisata kawah putih karena jika membawa mobil hingga ke parkiran atas  akan dikenakan biaya parkir yang cukup mahal yaitu Rp 150 ribu. Untuk meminimalisir pengeluaran, kami pun naik mobil angkutan yang sudah disediakan dengan membayar tarif Rp 10 ribu per orang PP. untuk membayat tiket masuk ke kawah putih sendiri kami harus merogoh kocek sebesar Rp 15 ribu per orang. 


Di parkiran juga tetep foto-foto


Pokoknya foto-foto 

Mobil angkutan yang disediakan pihak pengelola wisata cukup nyaman dengan konsep angkutan terbuka sehingga pemandangan hutan sepanjang perjalanan bisa dinikmati diiringi hembusan angin gunung yang dingin. Supir angkutannya juga sangat terlatih dalam membawa mobil. Terbukti dengan kecepatan berkendara ala-ala Alonso di Formula 1, mereka masih bisa menghindari banyak lubang di jalanan yang menanjak. Tips berkendara dengan mobil ini adalah jangan lupa berpegangan dengan erat karena saat supirnya ngepot (berbelok dengan tajam) kamu bisa saja terlempar keluar seperti aku yang hampir terlempar saat sedang asyik memotret teman-temanku.


Angkutan khusus kawah putih

Abis foto ini aku hampir kelempar -_-


Objek wisata kawah putih ini cukup menarik. Kawah belerang berwarna putih nan eksotis membuat kawasan ini sangat populer baik di kalangan wisatawan, orang-orang perfilman, fotografer prewedding, dan anak-anak alay seperti kami ini. Beberapa film sering menjadikan kawah putih sebagai lokasi syuting adalah "Heart", "Butterfly" dan  film lain yang mungkin aku tidak tahu. Di dalam film, kawah putih ini akan terlihat sebagai tempat yang recommended banget buat pacaran dan mesra-mesraan karena warnanya yang indah dan kesan romantis yang ditimbulkan. In my opinion, aslinya kawah putih ini sangat tidak cocok buat romantis-romatisan ala film Korea apalagi tangis-tangisan ala film India karena kandungan belerangnya yang cukup tinggi dan bisa membuat siapa saja sesak nafas dan batuk-batuk jika tidak memakai masker.

Yak, kembali ke cerita liburan kami, setelah sampai di lokasi hal pertama yang dilakukan para anak-anak alay apalagi kalau bukan berfoto. Dengan modal dua buah kamera SLR, kami pun gencar melakukan sesi foto-foto di kawah misterius ini dengan berbagai pose. Isal dan Nining bahkan sempat melakukan sesi foto-foto ala prewedding (mungkin suatu saat foto tersebut akan berguna menjelang pernikahan mereka di pertengahan tahun ini). Aku dan yang lain tidak kalah melakukan berbagai pose ala foto model amatir tahun 90an. Pose lompat tinggi, jongkok, bergandengan tangan, berangkulan, hingga tidur-tiduran pun kami lakukan untuk memuaskan hasrat kami yang tidak kesampaian jadi foto model.



semua orang pasti pernah punya foto dengan pose beginian


Ini norak sih, tapi yaudahlah...


Biar keren aja


Ini kamera di set pake timer (maksa)


Jempol


Berhubung saat itu adalah hari libur, jadi kawah putih cukup ramai dikunjungi wisatawan. Agak susah juga mencari spot yang benar-benar sepi untuk berfoto ala-ala foto model karena rawan bocor. Nggak lucu aja kan kalau kamu udah benar-benar berpose cantik, keren, dan elegan, tapi di belakangnya ada gambar satu keluarga yang tertangkap kamera lagi menggelar tikar sambil makan nasi timbel dengan nikmatnya?.


Setelah puas foto-foto dan sudah mulai pusing dengan aroma belerang yang menusuk hidung, kami pun memutuskan untuk melanjutkan ke lokasi selanjutnya yaitu Lembang. Untungnya (atau sialnya?) tepat setelah kami mulai naik angkutan untuk menuju lokasi parkiran bawah, kabut tebal dan hujan rintik-rintik mulai turun. Hujan rintik-rintik itu akhirnya perlahan berubah menjadi hujan cukup deras setelah kami berhasil sampai di mobil sendiri dan beranjak turun meninggalkan lokasi kawah putih sekitar jam 12 siang.







Udah mulai sesak nafas, waktunya pulang
Berhubung saat itu tepat jam makan siang, maka kami mencari tempat makan di sekitaran Ciwidey. Gerombolan cowok-cowok sudah berkeluh kesah tentang keadaan perut mereka yang katanya bukan lagi bersuara "kruyukk kruyuukk" tapi bersuara "grontanggg grontaangg". Intinya perut mereka sudah berkelontangan minta diisi. Berkali-kali kami mencoba berhenti di suatu tempat makan tapi, berkali-kali juga kami membatalkan niat tersebut karena tempat tersebut terlihat sepi. Pemikiran kami, suatu tempat makan yang sepi berarti tempat makan yang kelewat mahal atau rasa masakannya tidak enak.

Akhirnya setelah menemukan tempat makan yang cukup ramai, kami pun berhenti dan langsung memesan berbagai masakan khas Sunda seperti pepes, sayur asem, dan lain-lain. Selesai makan kami melanjutkan perjalanan. Niat pergi Lembang akhirnya harus batal karena jalanan Bandung yang saat itu macet. Entah karena si Komo lewat atau apa, yang jelas sudah tidak mungkin melanjutkan perjalanan ke Lembang karena kami harus kembali pulang ke Cirebon malam harinya.


Walaupun liburan kali ini berjalan sangat singkat, tapi kami cukup senang. Bisa berkumpul bersama sahabat lama yang pernah mengisi hari-harimu setiap hari adalah kebahagiaan sederhana yang sangat dirindukan. Aku  bahkan sempat menangis saat harus kembali ke Cirebon dan meninggalkan Kelly di kos-kosannya. Bukan karena harus berpisah dengan Kelly aku bersedih, tetapi aku sadar setelah itu kami tidak lengkap lagi. Aku pun harus kembali lagi ke Jogja esok harinya dan kembali ke dalam rutinitas mahasiswa tingkat akhirku. Aku akan sangat merindukan mereka karena aku tahu tidak mudah kembali berkumpul ketika setiap orang sudah memiliki kehidupan mereka masing-masing.


Well, bagaimanapun juga aku tetap bersyukur telah diberi kesempatan berkumpul lagi dengan mereka :)

Semoga suatu saat nanti, impian kami untuk kembali berlibur bersama dengan membawa suami, istri dan anak masing-masing bisa benar-benar terjadi. 


Senin, 08 April 2013

Holiday With Old Friends Part I

Finally, setelah bertahun-tahun nggak pernah kumpul bareng secara lengkap, entah karena kesibukan masing-masing atau emang sok- sokan sibuk, aku dan sahabat dahsyat semasa SMA bisa berkumpul kembali dalam suatu liburan singkat. Yeah!. Liburan singkat yang cuma berlangsung sekitar 36 jam ini  (kami paksakan) berlangsung di Bandung. 

Kenapa di Bandung? Pertama, karena cuma Bandung yang dekat dengan Cirebon, tempat kebanyakan sahabat-sahabat dahsyatku itu tinggal, sehingga bisa ditempuh dengan waktu cukup singkat. Kedua, karena salah seorang sahabat dahsyat bernama Achmad Reza yang sudah menjadi wirausaha nggak bisa meninggalkan pekerjaannya dan cuma dapat jatah liburan sehari. Ketiga, karena kemepetan dana yang memaksa mahasiswa-mahasiswa prihatin ini untuk liburan yang dekat-dekat saja, hahahaha...

Whooa, i was very excited about this holiday! Why? Karena rasanya sudah lamaaaaa sekali aku nggak berkumpul dengan mereka. Berkumpul disini maksudnya berkumpul lengkap, semua anggota genk jaman-jaman SMA bisa kumpul bareng tanpa ada yang terlewat sebiji pun. Kebayang kan kalo F4 harus  berkumpul tanpa salah satu anggota mereka? Mereka akan tetep ganteng sih, tapi rasanya tetap nggak seru,  bagai sayur tanpa garam, pizza tanpa mozarella, pepes tanpa daun pisang, halah...

Bisa berkumpul bersama mereka lagi di tengah-tengah aktivitas yang menjemukan sebagai mahasiswa tingkat akhir merupakan salah satu terapi paling ampuh. Mereka adalah sahabat paling absurd yang bisa membuatku  tertawa lepas sampai berurai air mata buaya. Mereka juga tempat curhat paling oke, dimana sesi curhat paling sedih dan pedih sekalipun bisa berubah jadi panggung komedi. They are my best!

Yap, balik lagi ke cerita liburan singkat kami, akhirnya setelah perdebatan seru pada Jumat malam tanggal 5 April, dalam rapat luar biasa di rumah Isal (yang mengakibatkan kerusakan di sebagian perabotan rumah Isal), akhirnya kami memutuskan untuk liburan ke Bandung. Kami berencana berangkat Sabtu malam dari Cirebon dengan menggunakan satu mobil yang khusus disewa boss Reza untuk liburan kali ini (Thanks Za, semoga usahamu lancar hingga tujuh turunan). Kami juga membuat rundown khayalan, yang kata Putu si mahasiswa aktivis dan organisatoris (?) kondisional atau bisa dikondisikan.

Di rundown khayalan itu rencananya setelah sampai Bandung kami akan menginap di kos-kosan Kelly. Rencana awal sewa villa kita gagalkan karena tidak efektifnya  fungsi villa tersebut karena keterbatasan waktu kami. Rencana obyek wisata yang akan kami kunjungi adalah Kawah Putih dan Lembang dalam waktu jelajah satu hari.Jumlah kepala yang ikut adalah semua tim inti sahabat Dahsyat, yaitu Aku, Putu, Reza, Kelly, Deni, Isal, dan tambahan pacar Isal, Nining dan pacar Reza, Rya. Jumlah yang sangat pas untuk mobil sewaan kami sehingga kami harus agak sempit-sempitan selama perjalanan nantinya.


Esoknya, tanggal 7 April kami berangkat dari rumah Isal sekitar jam 8 malam, terlambat satu jam dari waktu yang disepakati (maklum manusia Indonesia). Perjalanan kali ini seperti biasa diwarnai dengan keributan, pertengkaran dan ocehan nggak penting (inilah yang paling bikin aku kangen selama jauh dari mereka). Reza malam ini bertindak sebagai supir di sesi pertama. Reza akan bergantian nyetir dengan Kelly atau Deni kalau sudah capek nantinya. Hal paling konyol adalah berkali-kali Putu yang menurut kabar burung nggak bisa nyetir justru maksa-maksa harus ikutan gantian nyupir. Kita yang belum kawin dan sebagian berencana akan kawin tahun ini tentu saja menolak dengan keras, tegas, dan lugas.


Di tengah perjalanan, kami menyempatkan mampir berhenti di salah satu warunng makan yang menjual tahu sumedang. Puas ngemil tahu dan bongko (lontong) kami melanjutkan perjalanan kembali. Ingat pepatah habis ngemil terbitlah ngantuk? nah, itulah yang terjadi padaku di separuh perjalanan terakhir. Aku, Rya, dan Nining yang duduk di kursi paling belakang akhirnya tertidur cantik jelita. Aku terbangun ketika sudah  sampai tol dalam kota Bandung (lupa namanya)  karena suara berisik yang ditimbulkan cowok-cowok dari bagian depan mobil.


Kata cowok-cowok, ada kejadian menggemparkan ketika aku sedang tertidur. Deni, yang saat itu bertugas menyetir menggantikan Reza hampir menabrak plang alias pembatas jalan dalam kecepatan tinggi. Padahal semua yang ada di dalam mobil melihat keberadaan pembatas jalan tersebut, dan Deni si supir ganteng kami dengan gayanya yang masih tetap cool setelah berhasil menghindari pembatas jalan dalam jarak yang sangat dekat mengaku tidak melihat.. Yak, Deni tetaplah cool dan ganteng walaupun hampir membahayakan keselamatan kita semua, hahahaha.


Kami sampai dengan selamat sentosa di Kosan Kelly (sekitaran UPI) sekitar jam 1 pagi. Aku dan cewek-cewek mendapat jatah tidur di kamar Kelly sedangkan yang lain entahlah mereka tidur di mana. Mungkin di kamar teman Kelly yang lain, di mobil, di masjid AA Gym, atau mungkin di emperan toko, entahlah hanya Tuhan dan mereka yang tahu. Kami memutuskan untuk tidur unyu-unyu ala Teletubbies dan bangun jam 4 pagi untuk bersiap-siap pergi ke kawah putih......



Ngidam Tahu Sumedang 
Waktu Indonesia bagian ngemil
Reza dan Rya


Isal dan Nining
Kelly and Me